Mesir Gila, yang Mau Ngasih Bantuan Ke Gaza Malah Ditahan



Pasukan keamanan Mesir menahan 22 orang sebagai bagian dari tindakan keras yang diluncurkan awal pekan ini untuk mencegah pengiriman bantuan ke Jalur Gaza.
Ratusan petugas polisi menggeledah rumah-rumah di Rafah dan Syekh Zuayed untuk menyita barang yang siap untuk dikirim ke Gaza.
Gaza saat ini telah menjadi wilayah yang miskin dan merupakan rumah bagi 1,5 juta orang yang dikepung oleh Israel selama lebih dari 1.000 hari.
Ketika Israel mengontrol akses ke wilayah tersebut melalui laut dan udara, Mesir tidak mau kalah dan ikut menutup perbatasan Rafah - satu-satunya perbatasan yang dapat menghindari blokade Israel.
Pihak berwenang Mesir membenarkan tindakan mereka tersebut dengan mengatakan bahwa persimpangan pos perbatasan Mesir-Israel tidak boleh digunakan tanpa izin Tel Aviv.
Pemerintah Mesir membangun tambahan dinding baja di sepanjang perbatasan Gaza untuk mencegah masuknya barang-barang ke Gaza yang terkepung.
Mesir juga untuk memblokir wilayah laut dengan meningkatkan keamanan di perbatasan maritim dengan Gaza.
Polisi mengatakan mereka menyita sejumlah besar barang termasuk suku cadang untuk kendaraan bermotor, pakaian, makanan kaleng dan pompa air listrik selama operasi penggebrekan itu.
Seorang pejabat keamanan kepada AFP pada hari Jumat kemarin (26/3), aparat keamanan Mesir menahan 22 orang "yang dicurigai terlibat dalam operasi penyelundupan untuk memasok bantuan ke Gaza melalui terowongan-terowongan" yang berjalan di bawah perbatasan Mesir dengan Gaza.(fq/prtv)
Sumber : Eramuslim

Mengkritisi Kristen, Al-Azhar Larang Buku-Buku Ahmad Deedat di Cetak Ulang



Sebuah laporan menyebutkan bahwa akademi riset Islam (Majma Buhuts Islamiyah) Al-Azhar, menolak peredaran dan pencetakan kembali buku-buku karya Syaikh Ahmad Deedat, yang terkenal dengan dialog perdebatannya melawan uskup di Afrika Selatan pada era tahun 80-an lalu. Buku-buku Syaikh Ahmad Deedat terkenal hampir di seluruh dunia.
Menurut laporan tersebut, penolakan peredaran dan pencetakan buku ditandatangani oleh direktorat jenderal akademi riset Islam, dan salinan surat penolakan/pelarangan itu dikirim juga ke mahkamah keamanan negara.
Dalam isi suratnya itu Majma Buhuts Islamiyah Al-Azhar menyatakan: "Dilarang menerbitkan kembali buku karya Ahmad Deedat yang dulu diterbitkan di Afrika Selatan, tidak akan diterbitkan lagi di Mesir, karena buku-bukunya mengangkat isu-isu 'sensitif' dan 'kontroversial' di negeri ini," kebanyakan buku-buku karya Ahmad Deedat 'menyerang' keyakinan umat Kristiani, seperti dilaporkan surat kabar Al Misri Al-Yaum.
Menurut laporan, akademi riset Islam Al-Azhar menganggap argumen-argumen Ahmad Deedat di dalam buku-bukunya terhadap sudut pandang AL-Quran, argumen yang lemah, dan kebanyakan buku-bukunya dapat membuat umat kristen tersinggung, dan untuk mencegah timbulnya ekses dari buku-buku Ahmad Deedat maka buku-buku tersebut dilarang diterbitkan lagi.
Laporan menunjukkan bahwa semua orang yang beriman terhadap apa yang berasal dari Quran lantas meyakininya dengan sepenuh hati, dan dapat membuktikan kembali terhadap dalil (bukti-bukti) yang terdapat dalam buku "Deedat" berdasarkan pada metode Islami untuk membongkar kekristenan, dengan perdebatan teks-teks Al quran.
Buku-buku Ahmad Deedat dan sekitar 100 buku lain dari buku-buku Ikhwanul Muslimin telah diserahkan atas nama Keamanan Negara kepada Al-Azhar untuk diminta pendapat dan hukum yang mana yang benar dan salah, dalam upaya oleh aparat keamanan Mesir mengantisipasi buku-buku Islam yang dapat memicu pemahaman radikal.
Dalam konteks yang sama, laporan surat kabar Al-Misri Al-Yaum menekankan bahwa buku-buku yang disita oleh dinas keamanan negara dan penahanan beberapa petinggi dan anggota-anggota Ikhwanul Muslimin - yang menentang rezim Mesir - dalam buku-buku yang disita tidak ditemukan adanya penyimpangan yang bertentangan dengan agama atau keimanan.
Bahkan buku terkenal karya salah seorang mantan Mursyid 'Aam Ikhwanul Muslimin Syaikh Musthafa Masyur yang berjudul "Al-Islam Huwal Hal" (Islam adalah Solusi) - sebuah slogan yang dianggap mengancam negara dan hukum, menurut laporan tersebut dalam penelitian akademi riset Islam Al-Azhar sama sekali tidak ditemukan pelanggaran terhadap undang-undang negara atau ideologi negara.(fq/islamtoday)
Sumber : Eramuslim

Cerita Dibalik Layar Pertemuan Obama-Netanyahu di Gedung Putih



Ada cerita yang tersisa dari pertemuan tertutup antara Presiden AS, Barack Obama dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu baru-baru ini. Kabarnya, Obama sempat mempermalukan sejawatnya itu karena Netanyahu tidak mau memberikan janji secara tertulis terkait masalah pemukiman Yahudi.
Times Online dalam artikelnya hari Kamis (25/3) menyebutkan bahwa Netanyahu ditinggal begitu saja oleh Obama untuk makan malam. Obama nampaknya kesal karena Netanyahu tidak mau menyatakan janjinya secara tertulis tentang konsesi atas pembangunan pemukiman-pemukiman Yahudi di Yerusalem.
Seperti diketahui, Netanyahu menegaskan tetap akan melanjutkan rencana pembangunan 1.600 unit rumah baru untuk pemukiman Yahudi di wilayah pendudukannya di Al-Quds (Yerusalem Timur) meski dunia mengecamnya, termasuk negara sekutunya, AS.
Dalam pertemuan tertutup antara Obama dan Netanyahu di Gedung Putih baru-baru ini, AS berharap Israel mau menghentikan rencana pembangunan itu dan ambisinya untuk memperluas pemukiman Yahudi di wilayah Palestina, serta memperpanjang pembekuan pemukiman sampai 10 bulan ke depan.
Tapi harapan itu tidak terwujud, sementara Netanyahu merasa bahwa masalah pemukiman yang memicu "krisis" hungan antara Israel-AS sudah selesai ketika ia minta maaf pada Wakil Presiden AS, Joe Biden yang merasa dipermalukan dengan sikap Israel terkait soal pemukiman. Netanyahu juga merasa sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan AS, meski menurut surat kabar Israel, Haaretz, jawaban yang diberikan Netanyahu "datar dan parsial".
Lebih lanjut dalam artikelnya, Times Online menulis bahwa sebelum Obama makan malam dan meninggalkan Netanyahu sendirian, presiden AS itu menyuruh Netanyahu untuk berkonsultasi dengan para penasehatnya dan mendesak agar Netanyahu mengubah keputusannya.
"Beritahu saya kalau ada hal yang baru," ujar seorang anggota Kongres AS menirukan perkataan Obama dan sempat bicara dengan Netanyahu setelah insiden tersebut.
Setelah ditinggalkan Obama, tim Netanyahu memilih pulang ke kedutaan besar Israel di AS, meski dibolehkan untuk tetap berada di Gedung Putih, dengan alasan takut ada nguping pembicaraan mereka.
"Perdana Menteri meninggalkan Gedung Putih dengan rasa malu, merasa diasingkan dan tidak merasa tak punya gigi dibandingkan saat ia datang," tulis Haaretz. (ln/prtv)
Sumber : Eramuslim

AS dan Uni Eropa Memveto Kecaman Terhadap Israel



Dewan HAM PBB mengadopsi tiga resolusi pada hari Rabu kemarin (24/3) mengecam atas kebijakan Israel dalam menduduki wilayah Palestina dan Suriah, namun Amerika Serikat memveto semua semua keputusan tersebut.
Dan diperkirakan dewan HAM PBB akan mengeluarkan resolusi lain pada hari Kamis ini dengan menyerukan penggalangan dana untuk memberikan kompensasi kepada Palestina yang menderita kerugian selama agresi militer Israel di Gaza akhir tahun 2008 lalu hingga awal 2009.
Resolusi dewan HAM menyatakan adanya "pelanggaran berat hak asasi manusia" yang dilakukan oleh pasukan Israel di wilayah Palestina, dengan persetujuan dari 31 anggota dan penentangan sembilan anggota, dengan tujuh dalam 47 anggota dewan untuk mengakhiri pendudukan Israel di wilayah Palestina yang diduduki sejak tahun 1967.
Dewan menuntut agar Israel menghentikan apa yang disebut penargetan warga sipil Palestina dan penghancuran sistematis warisan budaya serta menghentikan semua operasi militer di seluruh wilayah Palestina dan mencabut blokade terhadap Gaza.
Amerika Serikat dan Uni Eropa yang suara anggotanya ada tujuh secara terpisah namun bersatu dalam pandangan secara umum terhadap resolusi, di mana mereka mengatakan bahwa resolusi tersebut tidak seimbang.
Amerika Serikat mengatakan kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB bahwa tiga resolusi tersebut tidak akan melakukan apa pun yang bisa menciptakan suasana kondusif untuk perdamaian.(fq/imo)
Sumber : Eramuslim

Ancaman Usamah bin Ladin Pada AS: Nyawa Dibayar Nyawa


Meski sosok Usamah bin Ladin tidak jelas betul keberadaannya, apakah masih hidup atau sudah sudah tewas, rekaman-rekaman videonya terus bermunculan. Kali ini, pemimpin jaringan Al-Qaida itu mengancam akan membunuh siapa saja orang Amerika, jika pemerintah AS menjatuhkan hukuman mati pada Khalid Syaikh Mohammed, tersangka dalang serangan 11 September 2001.
Stasiun televisi Al-Jazeera menayangkan rekaman video yang diklaim sebagai suara Usamah bin Ladin, Kamis (25/3). "Pada hari Amerika mengambil keputusan itu (mengeksekusi Mohammed dan tersangka lainnya), itu artinya kami sudah mengambil keputusan untuk mengeksekusi siapapun (orang Amerika) yang kami tangkap," kata Bin Ladin dalam rekaman video tersebut.
Gedung Putih tidak secara langsung memberikan komentar atas ancaman itu. Tapi Juru Bicara Gedung Putih, Robert Gibbs mengatakan bahwa "Presiden (AS) sudah pada jalan yang benar dengan meningkatkan tempo serta tekanan pada Al-Qaida."
"Kami memandang Al-Qaida tidak ada apa-apanya dan hanya menyebarkan kebencian. Itulah sebabnya, pemerintah akan terus melakukan tekanan untuk menghancurkan jaringan Al-Qaida," kata Gibbs.
Syaikh Mohammed dan empat tersangka lainnya oleh pemerintah AS dituding terlibat dalam serangan 11 September dan akan segera disidangkan kasusnya di pengadilan AS. Para jaksa penuntut kemungkinan akan mengajukan tuntutan mati bagi para tersangka.
Syaikh Mohammed ditangkap oleh pasukan militer Pakistan pada tahun 2003 dan dikirim ke kamp Guantanamo milik AS di Kuba pada tahun 2006. Awalnya ia akan disidangkan di pengadilan militer AS, namun pada akhir November lalu, Jaksa Agung AS, Eric Holder mengatakan bahwa Mohammed akan disidangkan di pengadilan sipil di New York.
Meski demikian, belum ada kepastian dimana Mohammed akan disidangkan setelah Walikota New York, Michael Bloomberg dan sejumlah anggota legislatif AS di Washington menyatakan keberatan jika persidangan dilakukan di New York. Sumber di kalangan pejabat AS mengatakan, para penasehat Presiden Barack Obama cenderung merekomendasikan agar Mohammed dan tersangka lainnya disidangkan di pengadilan militer.
Ia juga mengatakan bahwa Presiden AS, Barack Obama sedang meniru langkah pendahulunya (Presiden George W. Bush). Para politisi di Gedung Putih, kata Bin Ladin, sejak dulu sampai sekarang sudah bertindak tidak adil dan selalu mendukung Israel dalam kebijakannya menjajah Palestina. (ln/aljz) 
Sumber : Eramuslim

Al-Qaidah Dituding Menculik Seorang Israel di Al-Jazair



Seorang warga negara Israel dikabarkan hilang di Al-Jazair. Pemerintah Al-Jazair menduga warga Israel yang berkunjung ke Al-Jazair dengan menggunakan paspor negara Spanyol itu diculik oleh kelompok Al-Qaida.
Surat kabar Al-Sharq Al-Awsat edisi Jumat (26/3) menyebutkan, lelaki Israel itu hilang di kawasan gurun pasir di wilayah Al-Jazair dan pemerintah setempat yang melakukan penyelidikan meyakini bahwa warga Israel itu telah diculik oleh kelompok ekstrimis Islam yang memiliki hubungan dengan jaringan Al-Qaida.
Menurut surat kabar itu, warga Israel tersebut awalnya ditawan oleh warga lokal, lalu dijual ke organisasi teroris itu. Belum diketahui apakah warga Israel bersangkutan memiliki paspor dua kewarganegaraan atau paspor negara Spanyol itu juga paspor yang dipalsukan seperti yang terjadi dalam kasus pembunuhan komandan senior Hamas di Dubai. Apa keperluan kedatangan orang Israel itu ke Aljazair juga belum diketahui.
Kelompok-kelompok Islamis biasanya mengumumkan identitas tawanannya setelah beberapa hari kemudian. Kelompok Al-Qaida di kawasan Afrika dituding telah menculik 12 warga negara asing di wilayah Al-Jazair dan Maroko selama tiga tahun belakangan ini. Warga negara asing yang diculik dan ditawan Taliban yang baru diketahui identitasnya adalah dua warga Spanyol dan dua warga Italia. (ln/hrz)

Aktivis Mesir Minta Dubes Israel Diusir



Puluhan warga Mesir berunjuk rasa di depan kantor Kementerian Luar Negeri di kota Kairo, menuntut agar pemerintahan Husni Mubarak mengusir duta besar Israel dari negeri itu dan memutus semua bentuk hubungan dengan Israel.
Para pengunjuk rasa menyatakan, Israel telah berulangkali melakukan pelanggaran terhadap tempat-tempat suci milik bangsa Arab dan Muslim di Yerusalem dan melakukan berbagai kekerasan terhadap rakyat Palestina di kota itu dan wilayah Palestina lainnya, sehingga sudah selayaknya pemerintah Mesir memutuskan hubungan diplomatiknya dengan rezim Zionis Israel.
Dalam aksi protesnya, para pengunjuk rasa melambai-lambaikan bendera Palestina, gambar-gambar Masjid Al-Aqsa dan foto-foto Kota Yerusalem. Mereka juga meneriakkan slogan anti-Israel dan kecaman terhadap para pemimpin Arab yang cenderung diam melihat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Israel.
Unjuk rasa yang digelar oleh kelompok "Aktivis untuk Palestina" itu bukan cuma mendesak pemerintah Mesir mengusir Dubes Israel dan memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel, tapi juga menyerukan agar ekspor gas alam ke Israel dihentikan serta membatalkan Inisiatif Perdamaian Negara Arab.
Inisiatif Perdamaian Negara Arab adalah tawaran normalisasi hubungan negara-negara Arab terhadap Israel asalkan Israel memenuhi syarat yang mereka ajukan antara lain, mundur dari wilayah Palestina dan memberi hak kembali ke tanah airnya bagi para pengungsi Palestina.
Dalam aksi unjuk rasa tersebut, para demonstran membakar bendera Israel dan bendera Amerika sebagai bentuk protes kebijakan-kebijakan Israel yang selalu berpihak pada penjajahan Israel di Palestina. (ln/imemc)
Sumber : Eramuslim