Jadwal Pemutaran Ceramah KH. Ahmad Bakeri


 Setiap hari ( Pukul 05.30 – 06.30 WITA )
Minggu ke-3 Maret 2010
No.
Hari
Tanggal
Judul
1.
Senin
15 Mar 2010
-
2.
Selasa
16 Mar 2010
Syaitan Dasim : Penggoda Orang Makan
3.
Rabu
17 Mar 2010
Bahaya Tidak Sabar Terhadap Musibah
4
Kamis
18 Mar 2010
Hawa Nafsu Amarah
5.
Jum’at
19 Mar 2010
Hikmah Membaca Manaqib
6.
Sabtu
20 Mar 2010
Mukjizat Nabi Muhammad SAW
7.
Minggu
21 Mar 2010
Fadhilat Belajar dan Mengajar Ilmu Agama


Warga New York Protes Penggalangan Dana untuk Israel



Laporan surat kabar Jerusalem Post tentang rencana penggalangan dana untuk militer Israel, mendorong ratusan warga New York menggelar aksi unjuk rasa anti-Israel. Sedikitnya 25 organisasi, termasuk organisasi American Jews for Just Peace, ikut berdemonstrasi di New York mengecam penggalangan dana untuk militer Israel itu.
Dalam laporannya, Jerusalem Post menyebutkan bahwa organisasi Friends of the IDF (Israel Defence Forces) akan menggelar acara makan malam untuk 1.000 orang di Waldorf Astoria Hotel. Acara makan malam itu sekaligus acara penggalangan dana untuk militer Israel.
Dalam aksi protes di New York, para demontsran meneriakan slogan-slogan berisi dukungan pada Palestina. "Hidup Palestina, Hidup Intifada, Palestina tidak akan pernah mati!" teriak mereka.
Seorang demonstran ketika diwawancarai mengatakan,"Kami datang kesini untuk melindungi kaum Yahudi dari musuh-musuh kami yaitu entitas Zionisme, sebuah ideologi dibalik berdirinya Israel." Ia menambahkan, Israel mengeksploitasi pertikaian antara Yahudi dan kaum Muslimin dengan menghembuskan isu-isu anti-Semit.
Acara penggalangan dana di Hotel Astoria dihadiri oleh sejumlah pejabat militer Israel antara lain Kepala Staff Angkatan Bersenjata Israel, Jenderal Gabi Ashkenazi yang kebetulan sedang berkunjung ke Washington untuk membahas masalah Iran dengan Gedung Putih dan para senator di AS. (ln/prtv)

Situs Web di Irlandia Serukan Penerapan Syariat Islam



Sebuah situs internet atraktif di Irlandia menyerukan agar pemerintah Irlandia menerapkan Syariah Islam, sebuah seruan yang cukup kontroversial di tengah penduduk yang mayoritasnya beragama bukan Islam, seperti dilaporkan oleh situs "Erich Center" Irlandia pada hari Kamis kemarin (11/3).
Menurut situs "Erich Center", situs Dewan urusan Masyarakat Muslim yang beralamat di www.mpac.ie, setidaknya selama bulan Februari telah menarik pengunjung sebanyak 27 ribu orang baik dari kalangan Muslim maupun non-muslim.
Dalam editorial situs 'kontroversial' tersebut menyatakan bahwa penerapan syariah Islam di Irlandia adalah "sebuah tugas nasional" dan menambahkan: "Siapa yang bisa meragukan penerapan otoritas Allah di atas tanah Irlandia?"
Situs itu juga mengatakan bahwa mereka berusaha menghapus ketidakadilan, dekadensi moral, kebejatan moral, menegakkan keadilan, serta membentuk manusia pada penyembahan hanya kepada satu-satunya yang patut disembah, yang targetnya terbentuknya muslim yang seutuhnya.
Beberapa artikel yang terdapat dalam situs tersebut banyak menyerukan penerapan Syariah Islam dan salah satunya adalah menyerukan kepada para wanita Irlandia untuk menggunakan moral dalam berpakaian dan berhubungan dengan lawan jenis.
Juru bicara Dewan Urusan Masyarakat Muslim Irlandia Iam Egan, atau dikenal dengan nama lain "mujahid", menyatakan bahwa situs www.mpac.ie merupakan situs independen bukan berasal dari dewan imam Irlandia ataupun organisasi lainnya, dan dikelola oleh sekelompok relawan muslim dari penduduk Irlandia sendiri.
Namun melihat dari tampilan depan situs yang menampilkan logo Roya dan Liwa (bendera Laa Ilaha Illallah berwarna Hitam dan Putih), sepertinya situs tersebut berafiliasi ke gerakan Hizbut Tahrir.
"Dari perspektif agama, kami percaya bahwa kami mewakili posisi tren Islam di negeri ini .. Kami telah melihat peningkatan yang signifikan dalam jumlah kunjungan situs kami," kata juru bicara situs tersebut.
Di Irlandia terdapat 50 ribu umat Islam, mereka mewakili 1 persen dari total penduduk Irlandia yang berjumlah hampir lima juta jiwa, menurut laporan statistik resmi.(fq/iol)

Sekolah Non-Muslim Pertama Bersertifikasi Halal



Daisyfield Primary School di Blackburn, Inggris menjadi sekolah non-Muslim pertama yang dengan ketat hanya memberikan makanan halal pada siswanya. Dan sekolah itu menjadi sekolah non-Muslim pertama yang mendapatkan sertifikat akreditasi makanan halal dari lembaga pemantau kehalalan makanan di Inggris, Halal Monitoring Committee.
Sebenarnya banyak sekolah-sekolah dasar di Inggris Raya yang juga memberikan makanan pada siswanya, terutama jenis makanan daging. Mereka hanya memberikan daging halal, tapi sekolah-sekolah itu hanya mendapatkan sertifikasi atas kehalalan makanan yang diberikannya pada para siswa dari Halal Food Authority.
Bedanya dengan lembaga Halal Monitoring Committee, lembaga ini lebih ketat dalam melakukan pemeriksaan makanan halal, meliputi mulai saat makanan disiapkan, proses pengemasannya sampai pendistribusiannya,
Kepala Sekolah Daisyfield Primary School, Peter Fenton yang menerima langsung penyerahan sertifikat halal dari dewan penasehat lokal, Salim Mulla. "Saya senang manajemen dapur yang kami kelola sendiri sudah diakui karena telah memenuhi standar halal dari Halal Monitoring Committee dari sisi pembelian, penyimpanan dan proses menyiapkan makanan," kata Fenton.
Sementara, Perwakilan Halal Monitoring Commitee untuk wilayah Blackburn, Maulana Hanif mengungkapkan rasa terima kasihnya pada pihak sekolah Daisyfield karena telah melakukan langkah-langkah yang penting dalam menyediakan produk makanan halal pada para siswanya. Apalagi, meski sekolah non-Muslim, hampir 95 persen siswa sekolah itu adalah Muslim.
"Kami berharap semua sekolah meniru Daisyfield, hanya memberikan produk makanan halal pada siswa-siswi Muslim karena itu menjadi bagian penting dari agama kami," ujar Hanif. (ln/Express/isc)

Rusia: Soal Hak Asasi Manusia, AS Munafik



Rusia menanggapi sinis laporan tahun AS tentang kondisi hak asasi manusia di seluruh dunia. Kementerian Luar Negeri Rusia mempertanyakan obyektivitas AS dalam laporan itu dan mengkritik AS yang telah mengabaikan catatan buruk Negeri Paman Sam itu terkait penegakkan hak asasi manusia.
Dalam laporan AS tentang kondisi hak asasi manusia di seluruh dunia tahun 2009, untuk wilayah Rusia, AS menyatakan bahwa kejahatan bermotifkan rasial dan keagamaan di Rusia mengalami penurunan pada tahun 2009. Namun AS mengkhawatirkan diskriminasi etnis di Negara Tirai Besi itu.
Rusia merespon laporan AS itu dengan mengeluarkan pernyataan yang antara lain mengatakan,"Sudah menjadi rahasia umum bahwa laporan ini terutama ditujukan untuk memecahkan persoalan politik yang diterapkan AS," demikian pernyataan yang dirilis kementerian penerangan dan departemen media massa Rusia.
Dalam pernyataan itu, Rusia menantang agar AS juga melaporkan praktek-praktek yang terkait hak asasi manusia yang telah dilakukan Negeri Paman Sam itu, karena AS tidak mencantumkannya dalam laporan yang dibuatnya. "Sebagai contoh, menarik untuk diketahui bagaimana departemen (AS), yang parsial dalam masalah moral di lingkup hak asasi manusia, akan berkomentar atas penyiksaan dan kekejaman serta perlakuan yang tidak manusiawi, yang dilakukan oleh AS sendiri," kata Rusia dalam pernyataannya.
Rusia menyebutkan kekejaman dan kesewenang-wenangan tentara AS di penjara Bagram, Afghanistan dan kamp penjara Guantanamo di Kuba bahkan di jalan-jalan dan di dalam penjara-penjara di wilayah AS sendiri. Rusia juga menyatakan, AS tidak bisa mengabaikan kekerasan dalam rumah tangga yang memicu pembunuhan terhadap anak-anak yang banyak terjadi di AS, belum lagi sikap rasial, ketakutan pada kaum imigran dan Islamofobia yang marak di AS.
Lebih lanjut Rusia mengatakan, laporan AS yang menyinggung soal kondisi HAM di Rusia hanya akan mementahkan upaya untuk memperbaiki hubungan kedua negara yang renggang sejak masa Perang Dingin. Ibarat pepatah "kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak", begitulah standar ganda AS yang cuma bisa melihat keburukan pihak lain, tanpa mau melihat keburukan dirinya sendiri.(ln/prtv)

Ribuan Warga Yaman Selatan Protes Tindakan Represif Pemerintah


Pasukan Yaman kembali terlibat kontak senjata dengan pasukan militan di selatan Yaman, saat mencoba merebut kembali sebuah gedung pemerintah yang dikuasai oleh pasukan militan. Dalam tembak menembak itu, seorang pejalan kaki tewas menjadi korban
Serangan itu memicu kemarahan warga Yaman Selatan. Mereka turun ke jalan untuk memprotes pemerintah yang dihadapi dengan tindakan represif aparat keamanan Yaman. Dua orang demonstran tewas tertembak saat aparat keamanan Yaman membubarkan aksi unjuk rasa kelompok yang dituding sebagai separatis. Sementara di tempat lainnya, ribuan warga Yaman berunjuk rasa, mendesak pemerintah untuk menghentikan tindakan represifnya di wilayah selatan.
Massa yang melakukan aksi protes di sejumlah kota di Yaman, menyerukan penarikan mundur pasukan militer Yaman dari kota-kota di provinsi selatan Yaman. Mereka juga meminta pemerintah menghentikan operasi penangkapan.

Eskalasi kekerasan antara pasukan pemerintah dan kelompok yang dituding sebagai kelompok pemberontak di Yaman Selatan makin meluas beberapa minggu terakhir. Awal pekan kemarin, Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh menawarkan perundingan dengan kelompok tersebut dan menyatakan bersedia mendengarkan keluhan-keluhan mereka.
Pada saat yang sama, Presiden Saleh juga menegaskan akan "membakar bendera-bendera kelompok separatis dalam beberapa hari dan beberapa minggu kedepan." Pernyataan itu merupakan isyarat ancaman pemerintah Yaman untuk menindak tegas kelompok separatis. Namun kelompok separatis tidak memberi respon sama sekali atas tawaran Presiden Saleh.
 
Menurut pejabat pemerintahan Yaman, kelompok separatis yang terdiri dari kelompok-kelompok suku pedalaman bersenjata menutup akses jalan ke pusat kota dan mengepung pasukan militer Yaman. Itulah sebabnya, pasukan militer Yaman memutuskan untuk melancarkan serangan dan merebut kembali gedung pemerintahan kota Tor Al-Baha di selatan Yaman yang dikuasai oleh kelompok pemberontak selama berbulan-bulan.
Pemerintah Yaman juga memutus jaringan komunikasi telepon genggam di sejumlah tempat di Yaman Selatan, menyusul konflik bersenjata di wilayah itu. Media massa Yaman menyebutkan, kementerian informasi yang mengeluarkan perintah untuk memutus jaringan telepon genggam dengan alasan keamanan.
Tindakan represif yang dilakukan pemerintah Yaman memicu aksi protes warga di berbagai kota, termasuk di ibukota negara, Sanaa. Tokoh pemimpin di Selatan Yaman yang kini berada di pengasingan di Jerman, Ali Salem Al-Beidh mengecam tentara-tentara Yaman yang disebutnya sengaja menembak para demonstran yang sedang melakukan aksi damai.
"Kami mengingatkan Sanaa (pemerintah) atas agresi yang masih terus dilakukan terhadap rakyat kami dan kami menyerukan negara-negara Arab serta PBB untuk mengutuk kejahatan ini dan menekan rezim pembunuh dan penjahat ini untuk segera menghentikan pembunuhan terhadap warga sipil dan warga yang tak berdosa," demikian pernyataan Beidh dari Jerman.
Selain di Selatan, Yaman juga harus menghadapi kelompok-kelompok Syiah yang oleh pemerintah Yaman juga dituding sebagai kelompok pemberontak. (ln/wb)
  Sumber



Pasukan Somalia VS Asy-Syabaab, 54 Orang Dilaporkan tewas



Korban tewas akibat dua hari pertempuran di ibukota Somalia antara pasukan pemerintah dan kelompok pejuang Asy-Syabaab telah meningkat menjadi 54 orang, kata divisi pelayanan ambulans Somalia pada hari Kamis kemarin (11/3), ketika bentrokan mulai mereda dengan kedua belah pihak masing-masing mengklaim meraih kemenangan.
Pemerintah mendesak para penduduk untuk mengosongkan daerah-daerah dimana pertempuran itu terjadi, karena ada rencana pertempuran akan kembali berlangsung dengan Asy-Syabaab, namun pemerintah mengatakan mereka sampai sekarang belum memulai ofensif besar yang lama ditunggu-tunggu untuk mengusir kelompok oposisi dari Mogadishu dengan sekali serangan.
"Pemerintah hanya mengcounter-serangan para pemberontak. Kami akan melawan pemberontak seperti yang direncanakan, dan kami telah meminta warga sipil mengosongkan daerah-daerah tersebut," kata Muhammad Nur Abdul Rasaq, Walikota Mogadishu, kepada wartawan.
Kelompok pejuang Somalia telah memerangi pemerintah yang didukung Barat sejak awal tahun 2007 dan pemerintah telah mengepung beberapa blok wilayah yang dikuasai kubu oposisi pemerintah sejak Mei lalu.
"Kami telah membawa 54 orang tewas dan 140 lainnya terluka kemarin dan hari ini," kata Ali Muse, koordinator layanan ambulans, kepada Reuters.
Sebelumnya kelompok hak asasi manusia Elman telah melaporkan korban tewas sebanyak 38 orang dan 104 lainnya terluka.
"Korban tewas mungkin meningkat karena pertempuran yang mengerikan itu. Ratusan keluarga telah mengungsi dari setidaknya empat distrik di Mogadishu," kata Ali Yasin Gedi, wakil ketua kelompok, kepada Reuters.
Kedua belah pihak mengklaim meraih kemenangan setelah pertempuran sengit di ibukota yang telah mereda pada akhir Kamis kemarin.
"Kami menekan laju Asy-Syabaab dan menangkap sebagian besar mereka dari benteng-benteng mereka di utara Mogadishu," kata Syaikh Yusuf Mohamed Siad, menteri pertahanan negara Somalia, kepada Reuters.
Sedangkan Juru bicara Asy-Syabaab mengatakan para pejuang mereka telah membakar kendaraan lapis baja milik pasukan Uni Afrika. (fq/aby)