Menghadirkan materi siaran Radio Darussalam Samarinda ke ranah dunia maya, demi mewujudkan harapan kami menjadi "Sahabat Anda Dalam Meningkatkan Iman dan Taqwa"
JAKARTA--Bermunculannya ragam merk ponsel berserta ragam fiturnya ternyata memicu anak laki-laki berusia 11 tahun untuk mengutak-atik fitur apa saja yang terdapat pada ponsel dan mengoperasikannya. Sebaliknya, anak perempuan cenderung apatis dengan perkembangan variasi aplikasi ponsel.
Demikian hasil riset yang diterbitkan journal New Media & Society baru-baru ini. Meski begitu, bukan berarti orang tua harus membelikan ponsel minim aplikasi kepada anak perempuannya.
"Anak laki-laki memiliki keinginan untuk mengeksploirasi dan berbuat lebih kreatif dengan teknologi, dan tidak begitu takut untuk mengambil resiko itu. Alasan itulah yang menjadikan anak laki-laki cenderung mengutak-atik ponsel mereka," tukas Sheila Cotten, Sosiolog asal Universitas Alabama, Birmingham, AS seperti dilansir dari Livescience.com, Senin (21/12).
Cotten menambahkan, dirinya merasa khawatir dengan masa depan anak perempuan yang begitu mengacuhkan ponsel mereka. "Ini akan berdampak pada tipe pekerjaan atau kursus yang akan diambil si anak," imbuhnya,
"Jika mereka tidak tertarik mengeksplorasi atau turut ambil bagian dalam perkembangan teknologi, mungkin saja hanya ada sedikit dari mereka yang akan mengambil jurusan ilmu komputer, sains dan matematika," tambahnya.
Riset sendiri dilakukan Cotten bersama koleganya dengan menjaring 1.000 anak berjenjang pendidikan sekolah menengah pertama berusia 11 dan 13 tahun. Rata-rata anak diberikan pertanyaan seputar penggunaan ponsel dengan sistem skala 0 sampai 5. Skala 0 diartikan anak tidak pernah dan skala 5 diartikan anak minimal beberapa kali dalam sehari.
Hasilnya, riset menunjukan anak laki-laki mencatat skor tertinggi penggunaan ponsel untuk mengoperasikan aplikasi permainan, berbagi gambar dan video, mendengarkan musik dan mengirimkan surat elektronik.
Sementara itu, riset juga mendapati seterotipe yang mengatakan anak laki-laki cenderung terobsesi dengan ponsel yang mereka miliki. Tapi khusus kategori pemanfaatan komunikasi melalui aplikasi macam messenger ataupun aplikasi lain tidak ada perbedaan. Umumnya, rata-rata anak menghabiskan waktu untuk chatting 2 jam perhari. cr2/rin
Kitab al-Mu'tabar menjadi karya fenomenal Barakat yang berisi esai-esai tentang filsafat dan sains.
Abu'l-Barakat al-Baghdadi dikenal sebagai seorang dokter dan filsuf. Ia dikenal pula sebagai seorang saintis. Nama lengkapnya, Hibat-Allah ibn Ali ibn Malka Abu'l-Barakat al-Baghdadi. Ia pun memiliki nama julukan, Awhad al-Zaman atau orang ternama pada zamannya.
Julukan ini diyakini terkait dengan profesi Barakat sebagai seorang dokter. Sebab, ia merupakan dokternya para khalifah Baghdad, tempat ia tinggal. Ia juga dokter langganan para sultan dari Dinasti Seljuk. Selain melakukan praktik kedokteran, ia juga mengajar tentang kedokteran.
Barakat memiliki sejumlah murid kedokteran. Ia tak hanya dikenal dengan julukannya Awhad al-Zaman, tapi juga memiliki reputasi luas karena karya fenomenalnya yang berjudul Al Kitab al Mu'tabar.
Karya ini berisi esai-esai Barakat tentang filsafat. Dalam esainya itu, ia menguraikan konsep-konsep dasar tentang filsafat alam dengan analisis yang tajam. Kitab ini disusun saat ia mencapai usianya yang matang. Kitab al-Mu'tabar berisi refleksi-refleksi filosofis Barakat yang dilakukannya dari waktu ke waktu.
Terutama, mengenai logika, fisika, ilmu pengetahuan alam, dan metafisika. Ia mengutip pula Kitab al-Shifa yang ditulis cendekiawan Muslim ternama, Ibnu Sina.
Bahkan, dalam beberapa bagian bukunya, Barakat mengutip sepenuhnya kalimat Ibnu Sina. Namun, ia pun menyanggah pemikiran Ibnu Sina dan menguraikan alasan tak sependapat pemikirannya dengan Ibnu Sina tersebut.
Barakat mengenalkan ide-ide alternatif yang menarik. Dan, ide tersebut mengantarkan gaungnya pada perkembangan fisika modern. Seperti, idenya mengenai gerak dan konsep tentang waktu. Pada 1938, seorang ilmuwan, Shlomo Pines, menaruh perhatian besar pada ide inovatif Barakat itu.
Pemikiran Barakat tentang gerak, di antaranya mengenai gerakan proyektil, yang memiliki kaitan dengan perkembangan teknologi pada beberapa abad kemudian. Ini bermula dari perbincangan mengenai bubuk mesiu yang ditemukan di Cina.
Bubuk mesiu tersebut menjadi sangat populer dalam perang Eropa pada abad ke-15. Bubuk ini digunakan pihak-pihak yang bertikai dalam peperangan untuk mendorong proyektil besar, guna menghantam tembok-tembok pertahanan kota yang mereka serang.
Pada pertengahan abad ke-16, para pakar senjata di Eropa mulai mencari cara lain untuk meningkatkan daya jangkau kekuatan artileri mereka. Ada sisi lain dari perkembangan itu yang menjadi sebuah polemik dalam bidang sains.
Sebab, ternyata gerak proyektil yang didorong bubuk mesiu itu tak sesuai dengan konteks doktrin gerak yang diusung oleh Aristoteles. Dalam konteks ini, berdasarkan hukum gerak Aristoteles mestinya proyektil yang dilontarkan jatuh langsung ke tanah.
Pada kenyataannya, proyektil itu justru tak langsung jatuh ke tanah saat terlontar dari selongsong meriam. Sebaliknya, benda tersebut bergerak mengikuti sebuah lintasan melengkung. Bahkan, para pendukung Aristoteles yang paling setia pun melihat cacat doktrin itu.
Kritik terhadap konsep gerak yang diusung Aristoteles, sebenarnya bermunculan sebelum abad ke-15. Banyak cendekiawan termasuk cendekiawan Muslim melontarkan kritik terhadap doktrin gerak Aristoteles.
Misalnya, Joannes Philoponus yang lebih dikenal sebagai John the Grammarian. Kritik itu lalu dikembangkan lebih jauh oleh cendekiawan Muslim Ibnu Sina, Barakat, dan Ibnu Bajja dari Andalusia pada abad ke-12.
Dalam konteks ini, Barakat menyatakan ada tenaga dorong dari meriam untuk melontarkan proyektil. Hingga proyektil itu terdorong dan mencapai jarak tertentu. Bukan seperti yang dilontarkan oleh Aristoteles bahwa proyektil akan langsung jatuh ke bumi.
Hal itu tak akan terjadi, kata Aristoteles, jika ada penggerak yang berhubungan dengan objek yang sedang bergerak. Saat penggerak tak ada, objek itu akan langsung jatuh ke bumi. Pada kenyataannya, proyektil itu tak langsung jatuh, tapi bergerak meniti garis lengkung.
Konsep yang diajukan oleh Barakat dan Ibnu Sina mengenai gerakan proyektil ini, kemudian menjadi acuan pula bagi pengembangan konsep dorongan dan momentum. Terutama, pada pemikiran yang dikembangkan Galileo Galilei pada abad ke-17.
Pemikiran Barakat tentang gerak, di antaranya mengenai gerakan proyektil, yang memiliki kaitan dengan perkembangan teknologi pada beberapa abad kemudian. Ini bermula dari perbincangan mengenai bubuk mesiu yang ditemukan di Cina.
Paling tidak melalui pemikiran-pemikiran itu, Barakat telah menyumbangkan banyak ide baru mengenai fisika yang berkaitan dengan gerak. Selain mengemukakan hukum percepatan, dia juga menyatakan gerak itu relatif.
Dalam Kitab al-Mu'tabar, Barakat memberi perhatian atas kondisi yang saling memengaruhi antara kata-kata dan konsep. Misalnya, ia mengembangkan teori inovatifnya tentang waktu. Ini terlontar setelah ia menemukan sebuah kesimpulan.
Menurut Barakat, kata waktu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari merupakan sebuah konsep fundamental. Ia mengatakan, waktu merupakan sebuah entitas. Ia menegaskan pula bahwa waktu adalah ukuran sesuatu yang terjadi bukan ukuran gerak seperti kata Aristoteles.
Barakat memiliki pula kontribusi pemikiran dalam bidang psikologi. Ia membahas tentang kesadaran diri. Hal ini pernah pula diangkat oleh Ibnu Sina, terutama yang berkaitan dengan kegiatan ini. Namun, Barakat melakukan kajian lebih dalam.
Kehidupan Barakat
Barakat hidup di abad ke-11 hingga abad ke-12. Ia lahir di Balad, sebuah kota di wilayah Tigris, dekat Mosul, Irak. Ia dilahirkan di sebuah keluarga Yahudi. Laman Muslimheritage dan Wikipedia, mengungkapkan, akhirnya Barakat memutuskan untuk memeluk Islam.
Saat menjalani profesinya sebagai seorang dokter, Barakat memiliki saingan berat, yaitu seorang dokter Kristen bernama Ibn al-Tilmidh. Di sisi lain, ia pun memiliki teman karib bernama Ishaq bin Ibrahim bin Erza yang menulis sebuah buku berisi kata-kata sanjungan terhadapnya.
Ibn Abi-Usyabi'a in juga menulis sebuah karya yang berisi sejumlah anekdot dan ungkapan, serta daftar sejumlah karya Barakat dalam bidang kedokteran. Ini dianggap sebagai sebuah karya biografi tentang Barakat yang lengkap. Setumpuk Karya Barakat
Harus diakui, karya fenomenal Abu'l-Barakat al-Baghdadi adalah Kitab al-Mu'tabar. Karya ini berisikan beragam pemikiran Barakat dalam sejumlah bidang, terutama filsafat dan sains. Namun, ada sejumlah karya lain yang ditulis Barakat.
Di antaranya adalah karya dalam bidang kedokteran. Barakat memang dikenal pula sebagai seorang dokter. Karyanya dalam bidang kedokteran adalah risalah mengenai farmakologi yang berjudul Sifat Barsha'tha, dan berisi resep obat-obatan dari India.
Terdapat tiga salinan karya tersebut yang tersimpan di perpustakaan Turki. Selain itu, ada risalah lain tentang farmakologi yang ditulis oleh Barakat, yaitu risalah yang ia beri judul Tiryaq Amir al-Arwah.
Salinan karya tersebut tersimpan di Perpustakaan Kitapsaraydi Manisa, Turki. Ada pula risalah lain mengenai pemikiran intelektual yang berjudul Maqala fi'l-'Aql. Karya tersebut disimpan di perpustakaan di Iran dan Leipzig, Jerman.
Ada pula risalah Barakat yang diberi judul Risala fi Sabab Zuhur al-Kawa-kib Laylan wa Khafa'iha Naharan. Dalam risalahnya ini, ia menjelaskan mengapa bintang bisa terlihat di langit pada malam hari. Karya ini ditulis untuk menjawab pertanyaan Sultan Muhammad Tapar.
Manuskrip tentang karyanya itu disimpan di perpustakaan di Berlin, Jerman, dan Hiderabad, Pakistan. Juga, ada risalah mengenai kajian astronomi soal piring universal. Risalah ini berjudul Risala fi al-Amal bi al-Safiha al-Afaqiyyah.
Naskah risalah itu tersimpan di perpustakaan di Nidge, Turki.
Abu Al Zahrawi merupakan seorang dokter, ahli bedah, maupun ilmuan yang berasal dari Andalusia. Dia merupakan penemu asli dari teknik pengobatan patah tulang dengan menggunakan gips sebagaimana yang dilakukan pada era modern ini. Sebagai seorang dokter era kekalifahan, dia sangat berjasa dalam mewariskan ilmu kedokteran yang penting bagi era modern ini.
Al Zahrawi lahir pada tahun 936 di kota Al Zahra yaitu sebuah kota yang terletak di dekat Kordoba di Andalusia yang sekarang dikenal dengan negara modern Spanyol di Eropa. Kota Al Zahra sendiri dibangun pada tahun 936 Masehi oleh Khalifah Abd Al rahman Al Nasir III yang berkuasa antara tahun 912 hingga 961 Masehi. Ayah Al Zahrawi merupakan seorang penguasa kedelapan dari Bani Umayyah di Andalusia yang bernama Abbas. Menurut catatan sejarah keluarga ayah Al Zahrawi aslinya dari Madinah yang pindah ke Andalusia.
Al Zahrawi selain termasyhur sebagai dokter yang hebat juga termasyhur karena sebagai seorang Muslim yang taat. Dalam buku Historigrafi Islam Kontemporer, seorang penulis dari perpustakaan Viliyuddin Istanbul Turki menyatakan Al Zahrawi hidup bagaikan seorang sufi. Kebanyakan dia melakukan pengobatan kepada para pasiennya secara cuma-cuma. Dia sering kali tidak meminta bayaran kepada para pasiennya. Sebab dia menganggap melakukan pengobatan kepada para pasiennya merupakan bagian dari amal atau sedekah. Dia merupakan orang yang begitu pemurah serta baik budi pekertinya.
Selain membuka praktek pribadi, Al Zahrawi juga bekerja sebagai dokter pribadi Khalifah Al Hakam II yang memerintah Kordoba di Andalusia yang merupakan putra dari Kalifah Abdurrahman III (An-Nasir). Khalifah Al Hakam II sendiri berkuasa dari tahun 961 sampai tahun 976. Dia melakukan perjanjian damai dengan kerajaan Kristen di Iberia utara dan menggunakan kondisi yang stabil untuk mengembangkan agrikultur melalui pembangunan irigasi. Selain itu dia juga meningkatkan perkembangan ekonomi dengan memperluas jalan dan pembangunan pasar.
Kehebatan Al Zahrawi sebagai seorang dokter tak dapat diragukan lagi. Salah satu sumbangan pemikiran Al Zahrawi yang begitu besar bagi kemajuan perkembangan ilmu kedokteran modern adalah penggunaan gips bagi penderita patah tulang maupun geser tulang agar tulang yang patah bisa tersambung kembali. Sedangkan tulang yang geser bisa kembali ke tempatnya semula. Tulang yang patah tersebut digips atau dibalut semacam semen. Dalam sebuah risalahnya, dia menuliskan, jika terdapat tulang yang bergeser maka tulang tersebut harus ditarik supaya kembali tempatnya semula. Sedangkan untuk kasus masalah tulang yang lebih gawat, seperti patah maka harus digips.
Untuk menarik tulang lengan yang bergeser, Al Zahrawi menganjurkan seorang dokter meminta bantuan dari dua orang asisten. Kedua asisten tersebut bertugas memegangi pasien dari tarikan. Kemudian lengan harus diputar ke segala arah setelah lengan yang koyak dibalut dengan balutan kain panjang atau pembalut yang lebih besar. Sebelum dokter memutar tulang sendi sang pasian, dokter tersebut harus mengoleskan salep berminyak ke tangannya. Hal ini juga harus dilakukan oleh para asisten yang ikut membantunya dalam proses penarikan. Setelah itu dokter menggerakan tulang sendi pasien dan mendorong tulang tersebut hingga tulang tersebut kembali ke tempatnya semula.
Setelah tulang lengan yang bergeser tersebut kembali ke tempat semula, dokter harus melekatkan gips pada bagian tubuh yang tulangnya tadi sudah dikembalikan. Gips tersebut mengandung obat penahan darah dan memiliki kemampuan menyerap. Kemudian gips tersebut diolesi dengan putih telur dan dibalut dengan perban secara ketat. Setelah itu, dengan menggunakan perban yang diikatkan ke lengan, lengan pasien digantungkan ke leher selama beberapa hari. Sebab jika lengan tidak digantungkan, maka lengan terasa sakit karena masih lemah kondisinya.
Sesudah kondisi lengan semakin kuat dan membaik, maka gantungan lengan ke leher dilepaskan. Jika tulang yang bergeser itu sudah benar-benar kembali dalam posisi semula dengan baik dan sudah tidak terasa begitu sakit lagi maka buka semua balutan termasuk gips yang membalut tangan pasien. Tetapi jika tulang yang bergeser tersebut belum sepenuhnya pulih atau kembali ke tempat semula secara tepat, maka perban maupun gips yang membalut lengan pasien harus dibuka. Lalu lengan pasien dibalut lagi dengan gips dan perban yang baru setelah itu dibiarkan selama beberapa hari hingga lengan pasien benar-benar sembuh total.
Salah satu karya fenomenal Al Zahrawi merupakan Kitab Al-Tasrif. Kitab tersebut berisi penyiapan aneka obat-obatan yang diperlukan untuk penyembuhan setelah dilakukannya proses operasi. Dalam penyiapan obat-obatan itu, dia mengenalkan tehnik sublimasi. Kitab Al Tasrif sendiri begitu populer dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa oleh para penulis. Terjemahan Kitab Al Tasrif pernah diterbitkan pada tahun 1519 dengan judul Liber Theoricae nec non Practicae Alsaharavii. Salah satu risalah buku tersebut juga diterjemahkan dalam bahasa Ibrani dan Latin oleh Simone di Genova dan Abraham Indaeus pada abad ke-13. Salinan Kitab Al Tasrif juga juga diterbitkan di Venice pada tahun 1471 dengan judul Liber Servitoris. Risalah lain dalam Kitab Al Tasrif juga diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Gerardo van Cremona di Toledo pada abad ke-12 dengan judul Liber Alsaharavi di Cirurgia. Dengan demikian kitab karya Al Zahrawi semakin termasyhur di seluruh Eropa. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya karya Al Zahrawi tersebut bagi dunia. Kitabnya yang mengandung sejumlah diagram dan ilustrasi alat bedah yang digunakan Al Zahrawi ini menjadi buku wajib mahasiswa kedokteran di berbagai kampus-kampus.
Al Zahrawi menjadi pakar kedokteran yang termasyhur pada zamannya. Bahkan hingga lima abad setelah dia meninggal, bukunya tetap menjadi buku wajib bagi para dokter di berbagai belahan dunia. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan kedokterannya masuk dalam kurikulum jurusan kedokteran di seluruh Eropa. dya/taq
“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) prasasti itu, mereka, termasuk tanda-tanda Kami yang mengherankan.” (QS. Al Kahfi, 18: 9) !
Surat ke-18 Al Quran yang dinamakan “Al Kahfi” yang berarti “gua”, menceritakan tentang sekelompok pemuda yang berlin-dung di sebuah gua untuk bersembunyi dari penguasa yang meng-ingkari Allah dan melakukan penindasan dan ketidakadilan atas mereka yang beriman. Ayat-ayat yang menerangkan tentang hal ini adalah sebagai berikut :
“Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) prasasti itu, mereka termasuk tanda-tanda Kami yang mengherankan? (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurna-kanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.
Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, ke-mudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung bera-pa lamanya mereka tinggal (di dalam gua itu). Kami menceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesung-guhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesung-guhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemuka-kan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? Dan apabila kamu meninggalkan mere-ka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang ber-guna bagimu dalam urusan kamu. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang me-reka dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka, tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.
Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling berta-nya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini)?”. Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah satu orang di antara ka-mu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hal-mu kepada seorang pun.
Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya me-reka akan melempar kamu dengan batu atau memaksamu kembali kepada agama mereka dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.”
Dan demikianlah (Kami) mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: “Dirikanlah sebuah ba-ngunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya”. Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mere-ka) adalah tiga orang, yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: “(Jumlah mereka) adalah lima orang, yang ke-enam adalah anjingnya,” sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: “(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan adalah anjingnya.” Katakanlah: “Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bi-langan) mereka kecuali sedikit”. Karena itu janganlah kamu (Mu-hammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemu-da itu) kepada seorang pun di antara mereka.
Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu; “Se-sungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku memberiku petun-juk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini”. Dan mere-ka tinggal di dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
Katakanlah: ”Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka ting-gal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pen-dengaran-Nya; tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain daripada-Nya, dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi seku-tu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS. Al Kahfi, 18: 9-26) !
Menurut kepercayaan yang umum, para Penghuni Gua yang dipuji baik oleh sumber Islam maupun Nasrani, adalah korban dari tirani yang kejam dari Decius, kaisar Romawi. Karena menghadapi penindasan dan kesewenang-wenangan Decius, para pemuda ini memperingatkan kaum-nya berulang kali untuk tidak meninggalkan agama Allah. Ketidakacuh-an kaum mereka terhadap penyampaian risalah tersebut, meningkatnya penindasan kaisar, dan ancaman pembunuhan terhadap mereka, mem-buat mereka meninggalkan tempat tinggal mereka.
Sebagaimana dibenarkan dokumen-dokumen sejarah, pada saat itu, banyak kaisar yang melaksanakan kebijakan teror, penindasan dan kese-wenang-wenangan secara meluas terhadap mereka yang memegang agama Nasrani yang awal dalam bentuknya yang asli dan murni.
Dalam sebuah surat yang ditulis oleh Gubernur Romawi Pilinius (69-113 M) yang berada di Barat Laut Anatolia kepada Kaisar Trayanus, ia merujuk sekelompok Messiah (Nasrani) yang dihukum karena menolak menyembah patung kaisar. Surat ini adalah salah satu dokumen terpen-ting yang menyebutkan penindasan yang menimpa orang-orang Nasrani pada masa awalnya. Dalam situasi demikian, para pemuda ini, yang diperintahkan untuk tunduk kepada sistem yang non-agamis dan untuk menyembah kaisar sebagai tuhan selain Allah, tidak menerima ini dan berkata:
“Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (QS. Al Kahfi, 18: 14-15) !
Sehubungan dengan daerah tempat tinggal Para Penghuni Gua, ter-dapat beberapa pandangan yang berbeda. Di antaranya yang paling bisa diterima akal adalah daerah Ephesus dan Tarsus.
Hampir semua sumber Nasrani menunjuk Ephesus sebagai lokasi dari Gua tempat para pemuda beriman ini berlindung. Beberapa peneliti Muslim dan pengamat Al Quran bersepakat dengan kaum Nasrani ten-tang Ephesus. Beberapa lainnya, menerangkan dengan terperinci bahwa tempat itu bukanlah Ephesus, dan kemudian berusaha untuk membukti-kan bahwa kejadiannya adalah di Tarsus. Dalam penelitian ini, kedua alternatif ini akan dibahas. Walau begitu, semua peneliti dan pengamat, termasuk kalangan Kristen mengatakan bahwa kejadian tersebut berlang-sung pada masa Kaisar Romawi Decius (disebut juga sebagai Decianus) sekitar tahun 250 M.
Decius, bersama dengan Nero, dikenal sebagai kaisar Romawi yang menyiksa kaum Nasrani dengan amat kejam. Dalam masa pemerintahan-nya yang singkat, ia mensahkan suatu hukum yang memaksa semua orang di bawah kekuasaannya untuk melakukan persembahan terhadap dewa-dewa Romawi. Setiap orang diwajibkan untuk melakukan persem-bahan ini dan lebih jauh lagi, mendapatkan sertifikat yang menyatakan bahwa mereka telah melakukannya, yang harus mereka tunjukkan kepa-da petugas pemerintahan. Mereka yang tidak patuh akan dihukum mati. Dalam sumber-sumber Nasrani, dituliskan bahwa sebagian besar kaum Nasrani menolak tindakan musyrik ini dan melarikan diri dari “satu kota ke kota lain”, atau bersembunyi di perlindungan rahasia. Para Penghuni Gua kemungkinan besar adalah salah satu kelompok di antara kaum Nasrani awal ini.
Sementara itu, ada satu poin yang harus ditekankan di sini: Topik ini telah diceritakan dalam bentuk cerita oleh sejumlah ahli sejarah dan peng-amat Islam dan Kristen, dan berubah menjadi legenda akibat penambah-an banyak kepalsuan dan kabar burung. Namun demikian, kejadian ini adalah suatu kenyataan sejarah.
Apakah Para Penghuni Gua Ada di Ephesus?
Bersangkutan dengan kota tempat tinggal para pemuda ini dan gua tempat mereka berlindung, beberapa tempat ditunjukkan dalam berbagai sumber yang berbeda. Alasan utama untuk ini adalah: orang-orang ingin mempercayai bahwa orang-orang yang berani dan teguh hati seperti itu hidup di kotanya, dan sangat miripnya gua-gua di daerah tersebut. Seba-gai contoh, hampir di semua tempat ini terdapat tempat peribadatan yang katanya dibangun di atas gua.
Sebagaimana dikenal luas, Ephesus dianggap sebagai sebuah tempat suci bagi orang Nasrani, karena di kota tersebut ada sebuah rumah yang katanya dimiliki Perawan Maria dan kemudian berubah menjadi sebuah gereja. Jadi sangatlah mungkin bahwa para Penghuni Gua pernah hidup di salah satu di antara tempat-tempat suci tersebut. Bahkan, beberapa sumber Nasrani menyatakan kepastiannya bahwa itulah tempatnya.
Sumber tertua tentang hal ini adalah pendeta Syria bernama James dari Saruc (lahir 452 M). Ahli sejarah terkemuka, Gibbon, banyak mengutip dari penelitian James dalam bukunya yang berjudul The Decline and Fall of the Roman Empire (Kemunduran dan Keruntuhan Kekaisaran Romawi). Menurut buku ini, nama kaisar yang menyiksa ketujuh pemu-da Nasrani yang beriman tersebut dan memaksa mereka bersembunyi di dalam gua, adalah Decius. Decius memerintah Kekaisaran Romawi antara tahun 249-251 M dan masa kekuasaannya dikenal luas dengan penyiksaan yang ia lakukan terhadap para pengikut Isa (Jesus). Menurut para pengamat Islam, daerah tempat terjadinya peristiwa itu adalah “Aphesus” atau “Aphesos”. Menurut Gibbon, nama tempat ini adalah Ephesus. Terletak di pantai Barat Anatolia, kota ini merupakan salah satu pelabuhan dan kota terbesar dari kekaisaran Romawi. Saat ini, reruntuh-an kota ini dikenal sebagai “Kota Antik Ephesus”.
Nama kaisar yang memerintah di masa para Penghuni Gua terba-ngun dari tidur mereka yang panjang adalah Tezusius menurut para peneliti Muslim, dan Theodosius II menurut Gibbons. Kaisar ini meme-rintah antara tahun 408-450 M, setelah kekaisaran Romawi berubah memeluk agama Nasrani.
Dengan merujuk kepada ayat di bawah ini, dalam beberapa tempat disebutkan bahwa pintu masuk gua menghadap ke utara, sehingga sinar matahari tidak dapat masuk. Dengan demikian, orang yang melewati gua tidak dapat melihat sama sekali apa yang ada di dalamnya. Ayat Al Quran yang berkaitan dengan hal ini mengatakan :
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al Kahfi, 18: 17) !
Ahli Arkeologi Dr. Musa Baran menunjuk Ephesus sebagai tempat kelompok pemuda beriman ini hidup, dalam bukunya yang berjudul “Ephesus”, ia menambahkan:
Di tahun 250 SM, tujuh orang pemuda yang hidup di Ephesus memilih untuk memeluk Nasrani dan menolak keberhalaan. Saat mencoba untuk mencari jalan keluar, para pemuda ini menemukan sebuah gua di lereng timur Gunung Pion. Tentara Romawi melihat ini dan membangun dinding di pintu gua tersebut. 45
Saat ini, diketahui bahwa di atas reruntuhan tua dan kuburan ini ba-nyak didirikan bangunan religius. Penggalian yang dilakukan oleh Instit-ut Arkeologi Austria pada tahun 1926 mengungkapkan bahwa reruntuh-an yang ditemukan di lereng timur Gunung Pion berasal dari bangunan yang didirikan atas nama para Penghuni Gua di pertengahan abad ke-7 (selama pemerintahan Theodosius II). 46
Apakah Para Penghuni Gua Ada di Tarsus ?
Tempat kedua yang diajukan sebagai tempat Penghuni Gua pernah hidup adalah Tarsus. Memang, terdapat sebuah gua yang mirip dengan gua yang disebutkan dalam Al Quran, yang terletak di sebuah gunung yang dikenal sebagai Encilus atau Bencilus, di Barat Laut Tarsus.
Gagasan bahwa Tarsus adalah tempat yang tepat adalah pandangan dari banyak ilmuwan Islam. Salah seorang ahli tafsir Al Quran terkemu-ka, Ath-Thabari menetapkan bahwa nama gunung tempat gua tersebut berada adalah “Bencilus” dalam kitabnya yang berjudul “Tarikh Al Umam, dan menambahkan bahwa gunung ini terletak di Tarsus.47
Juga, ahli Tafsir Al Quran lain bernama Muhammad Amin menyata-kan bahwa nama gunung tersebut adalah “Pencilus” dan berada di Tarsus. Nama yang diucapkan sebagai “Pencilus” kadangkala diucapkan sebagai “Encilus”. Menurutnya, perbedaan antar kata-kata itu disebab-kan perbedaan pengucapan huruf “B” atau oleh hilangnya huruf dari kata aslinya, yang disebut dengan “abrasi kata-kata historis”.48
Fakhruddin Ar-Razi seorang ulama Al Quran terkenal lainnya, men-jelaskan dalam karyanya bahwa “meskipun tempat ini disebut Ephesus, tujuan dasarnya di sini adalah untuk mengatakan Tarsus, karena Ephesus hanyalah nama lain dari Tarsus”. 49
Sebagai tambahan, dalam Tafsir Qadi Al Baidhawi dan An-Nasafi, dalam Tafsir Al Jalalain dan At-Tibyan, dalam komentar dari Elmali dan O. Nasuhi Bilman, dan banyak ulama lainnya, tempat ini ditunjuk sebagai “Tarsus”. Di samping itu, semua ahli tafsir ini menerangkan bahwa kalimat dalam ayat 17, “matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri” dengan mengatakan bahwa mulut gua di pegunungan menghadap ke utara. 50
Tempat tinggal Para Penghuni Gua juga menjadi pokok perhatian pa-da masa kekaisaran Turki Utsmani dan sejumlah penelitian dilakukan terhadap hal ini. Terdapat beberapa korespondensi dan pertukaran infor-masi tentang hal ini dalam arsip kementerian Utsmani. Sebagai contoh, dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada Penguasa Perbendaharaan Negara Turki oleh pemerintahan lokal Tarsus, ada sebuah permintaan resmi dan lampiran yang menyebutkan permintaan mereka untuk mem-beri gaji kepada orang-orang yang berurusan dengan pembersihan dan pemeliharaan gua Ashabul Kahfi (Para Penghuni Gua). Jawaban terhadap surat ini menyatakan bahwa agar gaji para pekerja itu bisa diambil dari perbendaharaan negara, perlu diselidiki apakah gua ini benar-benar tem-pat Para Penghuni Gua pernah berada. Penelitian yang dilakukan untuk tujuan ini sangat berguna dalam penentuan letak sebenarnya dari gua tersebut.
Dalam laporan yang dipersiapkan setelah suatu penyelidikan yang dilakukan oleh Dewan Nasional, dinyatakan: “Di sebelah utara Tarsus, sebuah propinsi Adana, terdapat sebuah gua di sebuah gunung yang dua jam jauhnya dari Tarsus, dan mulut gua tersebut menghadap ke utara sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran.”51
Perdebatan yang berkembang tentang siapa para Penghuni Gua, di mana dan kapan mereka hidup, selalu mengarahkan pihak berwenang untuk mengadakan penelitian terhadap hal ini dan banyak komentar di-buat tentang hal ini. Namun belum satu pun komentar-komentar ini da-pat dipertimbangkan pasti, sehingga pertanyaan seperti: Pada periode mana para pemuda yang beriman ini hidup dan di mana gua yang dise-butkan dalam ayat-ayat tersebut, tetap ada tanpa jawaban yang menda-sar.
Menggali Ilmu, Menebar rahmat dan Membagi kebahagiaan. Mengudara di frekuensi 89,3 FM. Radio Darussalam Samarinda, Sahabat Anda Dalam Meningkatkan Iman dan Taqwa